02
Dec
09

Penanganan Autis

Spektrum Autisme, Perlu Terapi Terpadu

Gangguan perilaku pada anak ini dikabarkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Untuk saat ini, terapi terpadu bisa jadi solusi!

Boleh dibilang, kata “autisme” seakan-akan jadi momok bagi banyak orang tua. Tidak heran, karena jumlah angka kejadiannya di seluruh dunia terus meningkat. Bagaimana di Indonesia?

Sama juga sih. Jumlah penderitanya juga terus bertambah. Mungkin ini ada hubungannya dengan kesadaran masyarakat akan adanya gangguan perkembangan ini. Sayangnya, belum ada data yang menunjukkan berapa persis angka kejadian penderita autisme di Indonesia.

Kenali varian autisme

Sebenarnya, spektrum autisme adalah gejala autisme, mulai dari yang ringan sampai berat. Dan ternyata, bertambahnya kasus autisme bukan hanya pada kasus autisme klasik ala Kanner saja (simak boks “Apa itu Autisme?”), tapi juga pada varian autisme yang lebih ringan, seperti sindroma Asperger dan atipikal autisme. Apa bedanya sih?

Sindroma Asperger adalah gangguan perkembangan dengan gejala berupa gangguan dalam bersosialisasi, sulit menerima perubahan, suka melakukan hal yang sama berulang-ulang, serta terobsesi dan sibuk sendiri dengan aktivitas yang menarik perhatian. Umumnya, tingkat kecerdasan si kecil baik atau bahkan lebih tinggi dari anak normal. Selain itu, biasanya ia tidak mengalami keterlambatan bicara.

Sedangkan atipikal autisme adalah jenis autisme yang tidak memenuhi kriteria gangguan autisme yang disyaratkan oleh DSM-IV (panduan dalam menegakkan diagnosa gangguan mental). Meski begitu, si kecil juga mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi secara timbal balik. Mungkin juga ia tidak menunjukkan gejala yang khas. Atau, bisa juga gejala-gejalanya lebih ringan dari penyandang autisme klasik.

Penanganan musti pas!

Agar anak dapat “keluar” dari gangguan ini, memang diperlukan intervensi. Nah, bentuk intervensi itu bisa bermacam-macam, tergantung metode yang dianut oleh pusat penanggulangan masalah perilaku atau perkembangan anak. Menurut dr. Dewi K. Utama, Sp.A, dari Pediatric Therapy Clinic , Bandung, salah satu penanganan anak dengan gangguan spektrum autisme adalah terapi perkembangan terpadu.

Nah, terapi itu sendiri terdiri dari terapi okupasi dengan penekanan pada terapi Sensory Integration (Integrasi Sensorik) yang dipadu dengan metode Floor Time. Namun, bila anak memerlukannya, masih ditambah lagi dengan Strategi Visual. Kenapa bisa begitu?

“Terapi Sensory Integration dan Floor Time diberikan setelah anak diketahui menyandang gangguan semua spektrum autisme. Sedangkan Strategi Visual baru diberikan bila anak sudah benar-benar siap menerima terapi ini. Nah, kesiapan ini akan dinilai oleh terapis, dokter dan psikolog yang menangani anak,” ujar dr. Dewi.

Bila terapi berpadu…

Untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, terapi Sensory Integration harus dipadukan dengan metode Floor Time . Apa itu Floor Time ? “Secara harafiah, Floor Time adalah bermain di lantai. Metode bermain interaktif yang spontan dan menyenangkan bagi anak ini bertujuan mengembangkan interaksi dan komunikasi si kecil. Floor Time bisa dilakukan oleh orang tua, terapis, kakek-nenek, maupun pengasuh si kecil nantinya,“ jelas Dra. Linda Gunawan, Psi ., mitra dr. Dewi di Klinik Perkembangan Anak RS Bunda, Jakarta.

Bagaimana bentuk permainannya? Bisa apa saja sih. Yang penting, permainannya interaktif dan komunikatif. Misalnya, bermain lilin bersama, bermain pura-pura (Anda jadi singa dan si kecil sebagai mangsa), dan sebagainya. Sebaiknya, metode ini dilakukan 6-10 kali sehari, masing-masing selama 20 -30 menit. Yang penting nih, lawan bermain harus sabar dan santai dalam melaksanakan metode ini. Sebab, Floor Time bertujuan membentuk komunikasi dua arah antara anak dan lawan bicaranya, serta mendorong munculnya ide dan membantu anak mampu berpikir logis. Agar bisa melakukan Floor Time dengan baik, orang tua perlu bimbingan psikolog yang paham dan berpengalaman dengan metode ini.

Lalu apa yang disebut dengan Strategi Visual? Menurut dr. Dewi, “Umumnya, penyandang gangguan spektrum autisme lebih mampu berpikir secara visual. Jadi, ia lebih mudah mengerti apa yang dilihat ketimbang apa yang didengar.” Makanya, Strategi Visual dipilih agar si kecil lebih mudah memahami berbagai hal yang ingin Anda sampaikan. Biasanya, ia akan diperkenalkan pada berbagai aktivitas keseharian, larangan-aturan, jadwal, dan sebagainya lewat gambar-gambar. Misalnya, gambar urutan dari cara menggosok gigi, mencuci tangan, dan sebagainya.

Nah, dengan Strategi Visual, diharapkan anak bisa memahami situasi, aturan, mengatasi rasa cemas, serta mengantisipasi kondisi yang akan terjadi. “Kalau sudah begini, berbagai perilaku yang seringkali menyulitkan, seperti sulit berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, sulit memahami urutan suatu aktivitas, rasa marah atau cemas bila tidak tahu apa yang akan dikerjakan atau terjadi, dan sebagainya, bisa diminimalkan. Si kecil pun akan menunjukkan perilaku yang lebih sesuai dengan lingkungannya,” kata dr. Dewi lagi.

Perlu kerjasama semua pihak

Biar gangguan spektrum autisme bisa diatasi secara optimal, memang diperlukan kerjasama yang sangat erat antara orang tua, terapis, dokter, psikolog, serta juga guru di sekolah. Ini bila si kecil telah bersekolah lho. “Guru perlu tahu kalau penanganan anak autisme sangat berbeda dengan anak normal lainnya. Dengan begitu, penanganan si kecil bisa lebih baik lagi,” jelas dr. Dewi.

Nah, dalam kerjasama tim ini, orang tua adalah anggota tim yang memegang peranan yang terbesar. Kenapa? “Orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak. Untuk mencapai hasil yang diharapkan, semua ini sangat tergantung pada usaha Anda,” sambungnya.

PENATALAKSANAAN
Pada dasarnya adalah suportif dan simtomatis; meliputi
beberapa aspek antara lain ketrampilan sosial dan komunikasi,
orangtua, pendidikan, pekerjaan dan terapi yang lain.
1
Ketrampilan sosial dan komunikasi
Penderita Asperger mempunyai kecenderungan menggantungkan diri pada aturan yang kaku dan rutinitas. Keadaan ini
dapat digunakan untuk mengembangkan kebiasaan yang positif dan meningkatkan kualitas hidup. Strategi menyelesaikan masalah diajarkan untuk menangani keadaan yang sering terjadi, situasi sulit seperti terlibat dengan hal baru, kebutuhan sosial dan frustrasi. Dibutuhkan latihan untuk mengenal situasi sulit dan memilih strategi yang pernah dipelajari untuk situasi seperti itu
(1).Program Behavioral Modification dilakukan untuk melatih anak agar bersikap lebih layak dan dapat diterima secara sosial.
Dalam program ini yang diintervensi adalah:
· Rutinitas harian.
· Pengendalian temper tantrum
· Komunikasi
· Aspek emosi
Ketrampilan sosial dan komunikasi sebaiknya diajarkan oleh ahli komunikasi untuk berbicara pragmatis. Keadaan ini dapat dilakukan dalam terapi dua orang atau terapi kelompok kecil.
Terapi komunikasi meliputi:
(1)
1. perilaku nonverbal yang sesuai (cara memandang untuk interaksi sosial, memonitor dan mencontoh perubahan
suara).
2. membaca kode verbal dari perilaku nonverbal orang lain
3. social awareness.
4. perspective taking skill
5. interpretasi yang benar untuk komunikasi yang berarti ganda.
Kelompok self support dapat membantu penderita Asperger. Pengalaman kecil pada kelompok self-support memberi kesan bahwa individu dengan gangguan Asperger menikmati kesempatan tertentu dengan orang lain. Ia dapat mengembangkan hubungan di sekitar aktivitasnya dengan orang lain untuk membagi perhatian. Perhatian khusus dibuat untuk menciptakan kesempatan sosial melalui kelompok minat. Mereka membutuhkan kasih sayang, kelembutan hati, kepedulian, kesabaran dan pengertian. Jika mereka mendapat kannya, sedikitnya dapat lebih terlibat dalam masyarakat.

Orang tua
Orang tua berperan sangat besar dalam penatalaksanaan gangguan Asperger. Beberapa strategi yang menolong orangtua untuk menghadapi anaknya :
– Buatlah pembicaraan yang sederhana sesuai dengan tingkat pengertian mereka
– Buatlah instruksi yang sederhana untuk pekerjaan yang rumit dengan menggunakan daftar atau gambar.
– Mencoba mengkonfirmasi apakah mereka mengerti apa yang dibicarakan atau ditanyakan. Jangan membuat  pertanyaan yang cukup dijawabYes/No.
– Jelaskan bahwa mereka harus menatap saat berbicara dengan orang lain, beri semangat, pujian untuk prestasi, khususnya pada saat mereka menggunakan ketrampilan sosial tanpa disuruh.
– Untuk anak kecil yang tampaknya tidak mau mendengar, berbicara dengan dinyanyikan akan lebih bermanfaat.
– Berilah pilihan yang dibatasi dua atau tiga pilihan.

Pendidikan
Sangat bermanfaat jika anak dimasukkan ke sekolah yang memahami kesulitan anak dan orangtuanya. Guru harus menyadari bahwa muridnya mempunyai gangguan perkembangan dan berbeda dari murid lain. Ketrampilan, konsep, prosedur yang teratur, strategi kognitif dan norma-norma perilaku dapat diajarkan dengan efektif.

Beberapa prinsip umum sekolah agar dapat diaplikasikan pada anak dengan gangguan Asperger :
– Rutinitas kelas harus konsisten, terstruktur, dan sebisa mungkin dapat diramalkan. Mereka harus dipersiapkan terlebih dahulu. Termasuk jadual istirahat, hari libur dan sebagainya.
– Aturan diterapkan dengan seksama. Beberapa anak kaku dengan aturan. Pedoman dan aturan diterangkan dengan jelas, akan menolong jika melalui tulisan.
– Guru mengambil kesempatan pada bidang yang menjadi perhatian anak saat mengajar. Anak akan belajar dengan baik dan memperlihatkan motivasi dan perhatian yang besar bila sesuai dengan yang dijadualkan.
– Banyak anak gangguan Asperger berespons baik secara visual dengan alat seperti : jadual, chart, list, gambar dsb.
– Secara umum mengajar dengan konkrit. Hindari gaya bahasa yang sulit dimengerti seperti sarkasme, idiom dan
sebagainya.
– Strategi mengajar didaktik dan eksplisit dapat membantu anak memperoleh kecakapannya pada bidang fungsi eksekutif.
– Pastikan bahwa staf lain seperti guru olahraga, sopir bus, petugas perpustakaan dan kafetaria mengetahui keadaan anak. Lakukanlah pendekatan terhadap mereka.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
28

Pekerjaan
Dalam pekerjaan, manfaatkan kemampuan mereka untuk dapat mandiri. Kemandirian dalam berbagai bidang menjadi
prioritas. Penderita gangguan Asperger dilatih dan ditempatkan pada pekerjaan yang mendapat dukungan dan perlindungan dengan demikian mereka tidak akan mengalami gangguan psikologik. Sebaiknya pekerjaan mereka tidak melibatkan tuntutan sosial yang intensif, tekanan waktu atau membutuhkan perubahan cepat. Jangan ditempatkan pada situasi baru yang membutuhkan pemecahan masalah.

Terapi lain
Diberikan psikoterapi dan terapi okupasi. Psikoterapi suportif dapat menolong penderita agar dapat beradaptasi dengan perasaan sedih, frustrasi dan ansietas. Keadaan yang langsung terfokus pada pemecahan masalah lebih berguna daripada pendekatan berorientasi tilikan (insight). Terapi okupasi sangat dibutuhkan, diberikan oleh seorang terapis yang berpengalaman, untuk melatih koordinasi gerakan. Intervensi farmakologi tak kalah penting untuk menghilangkan gejala dan psikopatologi lain. Diutamakan jika ada gejala agresivitas dan self injuries. Golongan antagonis serotonin dopamin seperti risperidone, olanzapine, quetiapine dan serotonin selective reuptake inhibitor seperti fluoxetin menurut kepustakaan sangat baik untuk gangguan Asperger. Clomipramine efektif untuk terapi
gejala obsesi kompulsi pada gangguan ini. Terapi stimulan bermanfaat untuk mengatasi gangguan atensi. Nutrisi dapat menolong anak dengan gangguan Asperger. Makanan bebas gluten dan kasein sangat dianjurkan. Hal ini
berdasarkan pada hipotesis opioid pada autisme. Mega dosis vitamin dan mineral dianjurkan pada penatalaksanaan gangguan spektrum autisme. Diet bebas fenol dan salisilat, gula, zat aditif, jamur/fermentasi dianjurkan dengan menggunakan rotasi diet. Integrasi sensorik dilakukan pada anak gangguan spektrum autisme dengan tujuan untuk memperbaiki sistem registrasi dan modulasi dari berbagai input sensorik, memfasilitasi fungsi regulasi, memfasilitasi proses dari berbagai input sensorik, dan membantu perkembangan praksis dan ketrampilan untuk memecahkan masalah.

ILUSTRASI KASUS
B, laki-laki, 7 tahun, datang dengan keluhan suka memukul dan berteriak jika keinginan tidak atau lama dipenuhi.
Pasien lebih suka main sendiri dan sulit berteman, juga di sekolah. Pasien kelihatan aneh dan tidak bisa bergaul. Pasien suka bermain permainan aneh yang diciptakan sendiri. Ia tidak bisa mengerti dan peduli dengan perasaan orang lain. Ia sering melempar, menonjok tanpa mempedulikan orang lain, tapi tidak boleh ditegur. Pasien juga suka membangkang. Nilai pelajaran cukup bagus dengan rata-rata 7-9 untuk matematika dan pelajaran hafalan. Pasien kurang abstraksi, sulit mengerti bahasa. Pasien anak tunggal, kedua orang tua bekerja, riwayat prenatal tidak ada keluhan, proses persalinan dengan risiko ketuban pecah dini, berat badan lahir 3,5 kg, panjang badan 49 cm.
Pasien mengikuti aktivitas seperti taekwondo, piano dan komputer. Pasien bercita-cita ingin menjadi pilot karena ia
ingin naik pesawat yang ada baling-balingnya di hidung dan mesinnya jet. Pasien masuk TK pada usia 5 tahun, bisa membaca dan berhitung pada usia 4 tahun, tidak ada keterlambatan bicara dan berbahasa. Usia 6 tahun masuk SD. Di kelas II cawu II pasien pindah sekolah, karena murid di SD sebelumnya terlalu banyak. Pada pemeriksaan pasien tampak bersikap kaku, berbicara dengan bahasa yang baku dan sangat formal tanpa memandang lawan bicaranya (menghindari kontak mata). Pasien bicara keras dan tidak bisa pelan. Pasien memperlihatkan gangguan interaksi sosial dalam kontak mata yang kurang adekuat. Memperlihatkan respons yang tertunda waktu disapa. Pembicaraannya kurang modulasi dan nampak monoton. Ia tidak menunjukkan rasa sedih atau kecewa saat menceritakan tidak bisa makan McDonald, padahal ia menyukainya. Ia tidak berespons dengan ekspresi wajah dan sikap orang lain. Ia tidak
membalas jika orang lain tersenyum kepadanya. Pasien menyebutkan tanda waktu secara detil misalnya waktu ditanyakan jam berapa pulang sekolah, ia menjawab jam dua belas lewat tiga puluh enam menit, sepuluh detik, demikian juga untuk pertanyaan lain mengenai waktu. Pada saat ditanya, pertanyaan harus diulang baru pasien menjawab. Terkadang jawaban tidak sesuai. Saat ditegur karena melakukan kesalahan, pasien berkata:
“mengapa marah-marah, saya tidak salah”, dengan wajah tak bersalah. Ia tidak bisa menulis rapi dan sering marah-marah dan berteriak-teriak karena tidak bisa menulis rapi. Ia sering menghindari pekerjaan menulis. Pada saat menjiplak pasien tidak dapat melakukannya dengan rapi dan teratur, ia melakukannya berulang-ulang sampai bosan dan istirahat. Demikian juga saat menggunting gambar di kertas terlihat sangat kaku dan hasilnya tidak rapi. Apabila pasien melakukan sesuatu yang sulit, kemudian gagal maka ia akan frustrasi dan berteriak-teriak. Setiap kali kunjungan pasien melakukan hal yang rutin yaitu menggambar, padahal tidak disuruh. Untuk mengubah kebiasaan pasien ke hal-hal yang baru harus melalui proses dan tidak boleh langsung karena pasien akan ngambek. Di rumah pasien suka main playstation. Interaksi pasien dengan orangtuanya: pasien dapat ditinggal orang tuanya tanpa
protes, tetap bisa bermain dengan baik (asyik sendiri). Orientasi dan persepsi baik, Mood/afek inappropriate, empati sulit dirabarasakan, proses pikir terhambat.

DISKUSI
Memahami gambaran klinis dan kriteria diagnostik adalah modal untuk mendiagnosis gangguan Asperger. Gambaran
klinis yang mirip atau tampaknya bertumpang tindih dengan gangguan dalam spektrum autistik, dapat menyulitkan diagnosis. Deteksi dini gangguan Asperger dapat dilakukan jika mampu melakukan anamnesis dan pemeriksaan dengan teliti untuk menegakkan diagnosis. Etiologi gangguan Asperger masih dalam perdebatan, sehingga sampai saat ini penatalaksanaan pada dasarnya adalah suportif dan simtomatis. Terapi non farmakologis dan farmakologis diberikan sesuai kebutuhan pasien. Pendekatan multidisiplin bermanfaat untuk memberikan terapi yang holistik dan komprehensif. Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 29

-*- Sumber diambil dari: -*-
  Kumpulan Artikel Psikologi yang terdapat di Situs Angelfire
  http://www.angelfire.com/mt/matrixs/psikologi.htm#Mengenal%20Autisme

1 Response to “Penanganan Autis”


  1. April 25, 2011 at 9:23 am

    Syukron katsir…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Visitors

free counters

Blog Stats

  • 63,326 hits

Copyright

Dengan penuh kehati-hatian kami berusaha untuk tidak melanggar copyright. Apabila diantara pembaca ada yang merasa mempunyai hak cipta atas gambar dan atau tulisan di website ini, akan segera kami hapus atau menampilkan pemiliknya. We do our best to avoid copyrighted material. If anything on this site has been copyrighted by you, please contact us so we can remove it or give you credit!
Entertainment Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d bloggers like this: